Rubrik Sastra

Setelah Membaca Akutagawa

Setelah Membaca AkutagawaKiki Amelia Sepasang mataku kini Rashomonkesedihan menjadi tiangdengan cat merah mengelupasdan mayat-mayatyang tak pernah dimiliki tanah Di sanalahdi sepasang matakuseribu gagak terbang,mengintai,dan bersarangmematuk segala kenangandari Kota Kyoto yang terbakar 2021 Baca juga : Setelah Pergi

Continue Reading...

Rubrik Sastra

Setelah Pergi

M. Syahdan Keliat Setelah Pergi 28 Junidi atas kepalahantu pisau melayangsetelah aku menatap ponsel 01 Julisiang sepekat malammalam seputih siangdi hangat hari aku gigil 20 Julinyala api yang hidup di matamudinginkan tulangkusetelah bahtera membawamu ke barat 19 Agustuswaktu seperti siputperut seperti batupuisi lahir di kepala 30 Novemberudara ditahan waktutidur ditahan pikiraku tertahan degup jantung 25 […]

Continue Reading...

Kabar Literat

WEBINAR SENI: PERKEMBANGAN SASTRA INDONESIA DI ERA DISRUPSI

Sabtu, 6 November 2021, HMJ HTN (Siyasah) melaksanakan kegiatan Webinar Seni secara daring di ruang Google Meet. Kegiatan ini diawali dengan pembukaan oleh Deni Sastra Dinata selaku moderator yang mengatur jalannya acara. Acara kemudian dilanjutkan dengan pematerian oleh Kiki Rizki Amalia dengan tema diskusi “Perkembangan Sastra di Indonesia dan Eksistensinya di Era Disrupsi”. Agenda sore […]

Continue Reading...

Rubrik Sastra

SERPIHAN DIRIMU

ipang Serpihan Dirimukau nyala di antara pendar cahaya kotajendela-jendela toko pecahseperti bagian dari kitajalan lengang dan kau memenuhinyakaubeterbangan bagai bunga dan dedaunan semisementara kepalaku tanah yang kausinggahi kau dingin yang tak usaidan aku gelandangan yang berdiri di depan api malam larut dalam bias kotakau bising dalam sunyinya Jakarta, 2021 Biodata PenulisPenulis lahir di Jakarta, 05 […]

Continue Reading...

Rubrik Sastra

4 NOSTALGIA KE MASA MABA

FIKSI MINI Decky Medani Orientasi Siap dan Pengenalan Kampus Segala keresahan menyibukkan diri selama beberapa hari. Mulai dari; memangkas rumput malas di kepala, mencari rekan yang tahu betapa menyebalkan dari setiap kesiapan dan sudah pasti menyiapkan kata ‘baik’ yang berarti terpaksa.  Jika saja barang sebentar tak memikirkan batu yang bisa meloncat, mungkin ia tak akan […]

Continue Reading...

Rubrik Sastra

4 ISOLASI DARI MASTURBASI

FIKSI MINI Alfaza Metini Renung Gunung Setiap jam empat pagi penuh pasrah, sesunyi lenggang notifikasi pada gawai. Dari jendela instagram nampak dua gunung. Menyembul. Ketika itu ketakutan akan gairah seksi menelanjangi diri. Ia ingin pergi mendaki gunung, mencari tempat yang baik untuk kehilangan sinyal. Sinyal-sinyal yang membuat pohon tak tumbuh tegak. Selang Petang di Pematang […]

Continue Reading...

Rubrik Sastra

Peleburan Rindu

Fryan Septiansyah Aku adalah daun yang gugur Ditiup engkau dengan kata mundurDan kini pelik dingin yang turun mulai meredaMenyisakan aku dengan kesedihanMemaksaku berhadapan dengan perpisahanMenelantarkan ku dalam kesendirianMemandangimu dari kejauhan, yang mulai hilang pelan-pelan Dan aku adalah kekosongan yang menyatudengan berbagai macam kata buruk nan senduBerdoa risalah yang sama menimpamuBerharap rindu dileburkan oleh temu Juli, […]

Continue Reading...

Rubrik Sastra

CATATAN SEORANG VETERAN

kematian terentang seperti tangan kekasih bersiap memelukku pulang seolah aku mujahidin dari pertahanan terdepan dan maut ialah perempuan yang berlari menjemputku saat melihatku kembali dilubangi ratusan peluru tapi dalam sepetak ruang di hatimu aku adalah kubur tanpa batu aksara tanpa nama tanpa bendera dan lagu indonesia raya tapi dalam sepetak ruang di kepalamu kemerdekaan adalah […]

Continue Reading...

Rubrik Sastra

Sajak Kesaksian 1/5 Abad

Atap-atap rumah gugurBeras penghidupan satu minggu kuyupSebab langit nangis seharianDan bapak termenung putus kerjaMemandangi lantai kian keruh Kami bingung, kenapa si tetangga berada mendapat santunan negara Bulan makin matang di celah plafon yang jebolDan kutu-kutu gudik bar-bar di tubuhKami lihat kulit-kulit mencair jadi nanahKemiskinan pun terasa, pada lapar yang tumbuh cakarnya Pada nasib hitam. Di […]

Continue Reading...

Rubrik Sastra

Matahari Terbenam

-di 6° 51′ 48″ S, 107° 35′ 40″ E berdiri di depanku setengah lebih dekat dari lepasnya tawa kiranya mampu memberi jingga pada bentang kebiruan di jiwa berdiri di depanku membias hitam memenuhi pandangan menyekat celah dengan keberadaan semestinya tenggelam sejak dulu memohon menatapnya balik di langit kepalaku tetap menengadah tanganku terulur dan tak meraih […]

Continue Reading...